Hampir 147 Ribu Korban Kecelakaan Adalah Pelajar dan Mahasiswa

KORBAN kecelakaan lalu lintas jalan terbanyak berasal dari kelompok pelajar dan mahasiswa. Dalam rentang 2013-2017, tercatat 146.773 korban kecelakaan berasal dari kelompok usia muda tersebut. Merujuk data itu dapat disimpulkan bahwa rata-rata ada 80 anak muda yang tersungkur menjadi korban kecelakaan setiap hari di Tanah Air.

Angka-angka tersebut saya kutip dari data penerima santunan korban kecelakaan lalu lintas jalan yang disalurkan oleh PT Jasa Raharja. Badan usaha milik negara (BUMN) itu menjadi perpanjangan negara dalam meringankan beban korban kecelakaan dari sisi keuangan. Maksudnya, santunan yang disalurkan diharapkan mampu dapat ikut meringankan biaya yang dipikul oleh korban maupun keluarga korban kecelakaan.

Kembali soal kelompok pelajar dan mahasiswa. Dalam rentang lima tahun terakhir terlihat bahwa kontribusi kelompok tersebut merupakan yang tertinggi dibandingkan profesi lain. Rata-rata kontribusi kelompok pelajar dan mahasiswa tercatat mencapai 27,67%. Kontribusi itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok profesi karyawan swasta, apalagi dibandingkan dengan kelompok ibu rumah tangga yang masing-masing berkontribusi sebesar 19,01% dan 7,29%.

Dari sisi pertumbuhan jumlah korban atau penerima santunan terlihat bahwa tahun 2015 menjadi titik tertinggi dengan tren 28,84%. Sedangkan tahun 2017 menjadi titik terendah dengan pertumbuhan minus 2,52%.

Oh ya, dalam rentang 2013-2017, jumlah korban kecelakaan atau penerima santunan tercatat mencapai hampir 523 ribu orang. Mereka mencakup korban luka-luka dan korban meninggal dunia.

Melihat tingginya kelompok pelajar dan mahasiswa yang menjadi korban kecelakaan tentu membuat kita miris. Maklum, kelompok usia ini merupakan generasi penerus harapan nusa dan bangsa, serta sudah tentu harapan keluarga tercinta. Butuh usaha serius untuk memperkecil kelompok usia penerus bangsa dari risiko berlalu lintas jalan.

Memangkas fatalitas kecelakaan lalu lintas dapat dimulai dari memahami pemicu dan dampak kecelakaan. Guna memahami kedua hal itu tentu saja berawal dari kemauan untuk belajar, termasuk dari pengalaman yang ada. Lewat pemahaman yang kuat, lalu dilengkapi kompetensi yang mumpuni dalam berkendara, serta taat pada regulasi, diharapkan fatalitas dapat dipangkas. Bahkan, termasuk memperkecil peluang untuk terlibat dalam kecelakaan. (edo rusyanto)

 

0Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: