Mario Iroth : Harga Bahan Bakar di Sudan 6 Pound atau Rp 2.500 Perliter

AlanBIKERS.com – Mario Iroth pemenang Castrol Power1 Legendary Bikers 2014 saat ini sedang melakukan perjalanan Wheel Story Season 5. Dia berpetualang menjelajah benua Afrika menggunakan sepeda motor Honda CRF250 Rally. Inilah cerita yang dibuatnya pada tanggal 12 April 2018, dimana saat itu sudah memasuki hari ke-179 dan jarak tempuh 23.580 Km ketika dia sudah memasuki wilayah Republik Sudan.

Kami masuk Sudan dari Gallabat, border bagian selatan berbatasan dengan Ethiopia. Proses imigrasi dan custom berjalan lancar. Kami diwajibkan registrasi ulang visa Sudan diperbatasan sehingga ketika ada check point semua berjalan lancar. Sekitar 80 Km pertama kondisi jalanan rusak dan berlubang, hanya savana dan perkampungan kecil yang terlihat, belum lagi cuaca panas mencapai 43°C, untung camel bag menampung 3L air minum.

Sekitar 150 Km berkendara dari border hujan lebat mengguyur area gurun. Tidak ada tempat berteduh. Saya berkendara dengan hati-hati karena jarak pandang terganggu oleh air hujan disertai angin kencang. Lumayan bikin adem karena air hujannya terasa seperti air es. Sore hari menjelang kami memutuskan untuk bermalam di kota Al-Qadarif.

Hari selanjutnya kami sudah bangun dari jam 6 pagi. Sengaja riding lebih pagi supaya udara masih sejuk. Biasanya mulai jam 10 pagi udara mulai panas menyengat. Kami masih harus menempuh jarak sekitar 400 Km untuk tiba di Khartoum Ibukota Sudan. Dan memang benar ketika tengah hari tiba, terpaan angin serasa ditiup pakai hairdryer.

Siang itu temperature mencapai 46°C. Bukan main panasnya. Belum lagi polisi check point hampir setiap 25 km menanti kadang bikin kesal karena berhenti sejenak dibawah terik matahari yang membakar kulit. Sesekali kami berteduh di warung kecil pinggir jalan untuk mendinginkan tubuh sambil minum teh dan kopi khas Sudan yang nikmat.

Sampai di Khartoum, kamipun disambut di KBRI Khartoum. Disini kami akan memulai pengurusan visa Mesir. Sambil menunggu visa selesai, kami sempatkan bertemu dengan mahasiswa Indonesia di Khartoum. Biasanya mereka sering nongkrong di Warung Nusantara (warung Indonesia yang dikelola oleh Mahasiswa Indonesia). Sambil menyantab makanan Indonesia yang sudah kangen berat sambil ngobrol bebas dengan mahasiswa Indonesia di Sudan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Kami juga sempat mendapat undangan mengunjungi pabrik Indomie berada tak jauh dari Khartoum. Sambil menceritakan pengalaman touring kami di Afrika didepan staff Indomie yang berasal dari Indonesia, juga sempat melihat proses pembuatan hingga pengepakan Indomie.

Selanjutnya kami diwawancara oleh journalis yang memuat berita Wheel Story di beberapa media cetak dan online di Sudan. Ketika visa mesir sudah siap, kami belum bisa melanjutkan perjalanan ke bagian utara karena tertahan oleh badai pasir yang melanda Khartoum. Kami menunggu hingga badai pasir reda 2 hari lamanya.

Setelah cuaca bersahabat, perjalanan kami lanjutkan. Dilepas oleh seluruh staff KBRI Khartoum, dari depan KBRI Khartoum. Selama perjalanan menuju utara, masalah lainya sudah menanti. Kami susah mendapatkan bahan bakar. Dikarenakan kilang sedang dalam tahap maintainance sehingga mengakibatkan pasokan bahan bakar ke berbagai tempat menjadi terhambat.

Untunglah masih bisa ditemukan di Black market walaupun harganya jauh lebih mahal, namun tetap masih terasa masih murah karena memang di Sudan bahan bakar sangat murah. Bayangkan saja satu liter seharga 6 Pound Sudan atau sekitar Rp 2.500.

Kami menghabiskan beberapa hari di kota Karima. Disini kami mengunjungi Pyramida Jebel Barkal yang diklaim sebagai pyramida tertua, walaupun tidak sebesar pyramida Giza di Mesir. Masyarakat Sudan memang sangat ramah, kami sempat di host oleh 2 keluarga untuk beristirahat dan makan bersama sewaktu kami tidak berhasil mendapatkan bensin.

Perjalanan kami lanjutkan kearah utara melewati gurun pasir, banyak check-point oleh militer namun semuanya ramah dan bersahabat apalagi kalau mendengar Indonesia mereka akan langsung teringat dengan Soekarno (Presiden pertama RI).

Hari terakhir di Sudan kami tinggal di penginapan sederhana di pinggir sungai Nil, menikmati sunset dari pinggir sungai Nil dan menikmati makanan tradisional khas Sudan. Selanjutnya tak jauh dari sana sekitar 200km akhirnya kami tiba di perbatasan Eshket berbatasan langsung dengan Mesir dan mengakhiri petualangan kami di Sudan.

 

 

16Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: