Membangun Budaya Malu Merampas Hak di Jalan Raya

AlanBIKERS.com – Terik matahari menyengat. Asap mengepul dari knalpot kendaraan dibalut dengan suara mesin yang menderu. Siang itu lalu lintas jalan di salah satu sudut kota Jakarta sangat ramai. Beragam kendaraan bermotor itu tumpah ruah di perempatan jalan. Ada yang berhenti karena lampu pengatur berwarna merah, sedangkan sebagian lainnya melaju karena mendapat giliran warna hijau. Tak sedikit juga yang tidak sabar, mereka menerobos lampu merah. Runyam.

Saya termasuk yang sedang kebagian warna merah. Berhenti. Hitung-hitung istirahat setelah melaju hampir tiga puluh menit dari rumah menuju kantor.

Kami yang sedang menanti pergantian warna lampu pengatur lalu lintas jalan dikejutkan oleh teriakan.

“Turun luh!”

Pengemudi taksi berwarna biru yang mendapat terikan seperti itu tampak turun dari kendaraannya. Tanpa banyak cincong, pria bertopi yang berteriak tadi melayangkan bogem mentah. Sang sopir taksi sempat terhuyung.

Baku pukul saling pun terjadi. Tak lama kemudian dua pria berseragam safari warna gelap merangkul kedua pria yang sedang berkelahi tadi. Mereka memisahkan keduanya. Menenangkan situasi.

Sepatutnya malu untuk merampas hak orang lain. Malu bertindak tidak beradab

Tak jelas apa pangkal persoalan. Sayup-sayup terdengar soal gerobak dan senggolan. Pria bertopi tadi terlihat mendorong gerobak. Posisi kejadian persis di belokan jalan. Bisa jadi gerobak tersenggol mobil. Mungkin.

Di bagian lain, seorang pesepeda motor emosi ketika diberitahu bahwa trotoar adalah tempat pejalan kaki melintas. “Jangan dibiasin, ini (trotoar) untuk jalan kaki, bukan untuk jalan motor,” ujar pedestrian itu.

Tak terima diberitahu, sang pesepeda motor memukul pejalan kaki. Sang pejalan kaki tidak membalas hanya terus merekam dan mengingatkan bahwa trotoar adalah tempat pejalan kaki melintas. Perempuan pesepeda motor tadi lantas pergi usai meluapkan emosinya.

Pemukulan pejalan kaki itu terlihat dalam rekaman video yang viral di media sosial, Selasa, 7 Agustus 2018. Situasi lalu lintas jalan saat kejadian terlihat sangat padat. Tak hanya perempuan tadi, sejumlah pesepeda motor lain pun tampak melintas di trotoar. Sebagian lalu turun dari trotoar ketika diingatkan oleh pejalan kaki tadi.

Meredam Emosi

Lalu lintas jalan di Jakarta sangat padat oleh kendaraan bermotor, terlebih saat jam sibuk, yakni pagi dan petang hari. Gesekan amat mudah terjadi, ironisnya ada yang dengan mudah meluapkan emosi dengan berkelahi.

Kita tahu bahwa semua pengguna jalan ingin aman, nyaman, dan selamat ketika berlalu lintas jalan. Sudah selayaknya menempatkan diri sesuai porsi masing-masing. Ada hak dan kewajiban di setiap pengguna jalan. Kesemua itu untuk mewujudkan lalu lintas jalan yang humanis. Lalu lintas jalan yang beradab. Manusia punya akal sehat dan nurani. Sepatutnya kedua hal itu diterapkan termasuk saat berlalulintas jalan.

Saling menghargai, berbagi ruas jalan, dan menaati aturan menjadi simbol manusia yang beradab. Kita tak ingin merusak sisi kemanusiaan demi kepentingan pribadi. Apalagi merampas hak orang lain. Hak pejalan kaki berjalan di trotoar dan menyeberang di zebra cross. Begitu juga hak pesepeda motor dan pengendara mobil untuk melintas di jalan raya.

Tampaknya memang butuh mempertebal rasa sabar. Mari meredam emosi agar tak menggelegak dengan cara berpikir posifif, memprioritaskan keselamatan, bertindak tenang, dan mendoakan hal-hal yang baik. Bukan apa-apa, emosi yang tak terbendung bisa menimbulkan ketidak kenyamanan. Bahkan, ketika emosi merusak konsentrasi berkendara bukan tak mungkin memicu terjadinya kecelakaan di jalan.

Kemacetan lalu lintas jalan adalah risiko berkendara di kota yang padat penduduk. Setiap pengendara punya kontribusi atas kemacetan yang terjadi. (edo rusyanto)

Baca Juga : Edo Rusyanto’s traffic

 

24Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: