Sulitnya Membangun Budaya Keselamatan Jalan

Membangun budaya keselamatan berlalu lintas jalan terasa sulit. Butuh waktu lama untuk menjadikan sebuah kebutuhan dalam keseharian. Entah sampai kapan.

Permisifme begitu kental. Siapa saja, dari kelas ekonomi mana saja, bahkan dari latar pendidikan apapun, masih dengan mudah mengumbar permisif untuk urusan keselamatan berlalulintas jalan. Masih banyak yang bertengger di level pengetahuan. Tahu ada risiko, tapi lantaran permisif tadi, tetap melanggar aturan berlalu lintas jalan.

Tampaknya butuh mencicipi getirnya petaka jalan raya untuk disiplin kemudian. Pahitnya melanggar aturan tak semata risiko mengalami kecelakaan, tapi juga memikul kerugian ekonomi maupun finansial. Bahkan, terkait kecelakaan bisa merembet ke urusan pengadilan.

Disiplin untuk memangkas risiko yang mengancam saat berlalulintas jalan butuh kemauan. Mau untuk tidak menjerumuskan pihak lain dalam kesulitan. Persoalannya, butuh meningkatkan level pengetahuannya tadi pada pemahaman. Faham bahwa saat risiko terjadi, kecelakaan berdampak luas.

Cara meningkatkan pemahaman yang dipadukan dengan kemauan keras membangun budaya keselamatan butuh dua aspek penting. Keduanya ada di dalam diri, yakni nurani dan akal sehat. Saat keduanya tertutup, tak heran bila ugal-ugalan di jalan menjadi pemandangan keseharian.

Hati nurani dan akal sehat bisa lumpuh karena kerusakan cara kerja berpikir. Mesin otak untuk menerima nilai-nilai kebaikan tidak bekerja. Kerusakan dapat tercipta oleh banyak aspek, mulai dari zat kimia hingga kerusakan fisik mesin tadi. Wujudnya manusia, perilakunya berbeda.

“Sulit memang membangun budaya keselamatan berlalulintas jalan,” kata kolega saya yang lain. Boleh jadi sulit. Tapi, sulit bukan berarti tidak bisa. (edo rusyanto)

Baca juga tema lainnya dengan klik : https://edorusyanto.wordpress.com/

1Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.