AlanBIKERS.com – Meski usia tidak lagi muda, namun semangat tinggi untuk turing dengan motor diperlihatkan oleh sekumpulan orang-orang tua dari komunitas GHOS. Goes Over Seket (GHOS), demikianlah perkumpulan bapak-bapak berusia 50 tahun keatas ini disebut.
Mereka yang tinggal di Ciparigi, Bogor ini berawal dari hobi gowes sepeda di seputaran Kota Hujan. Takut membuat bosan jika setiap hari gowes sepeda, sebagai selingan, mereka pun melakukan momotoran alias turing dengan motor.
“Momotoran ke Cisalada adalah turing kedua kami. Bulan sebelumnya, GHOS yang hampir kebanyakan anggotanya adalah Aki-aki dan Ninik-ninik ini kali pertama turing ke Balong Lurah di daerah Gunung Bunder. Lokasi yang kami tuju biasanya yang masih asri dan alami,” terang Hardiman Yoeck, anggota GHOS.
Baca juga : Satmori Bromphit 12,5 Makan Siang di Pedesaan dan Mandi di Curug 3 Bidadari
Tempat alami dan asri yang dituju seluruh anggota yang sudah tidak muda lagi itu biasanya hanya sekedar makan siang dengan masakan matang yang sudah disiapkan dan dibawa dari rumah, serta mandi dan bermain air di kali atau sungai yang airnya masih bening. Kadang, mereka memanfaatkan tempat yang masih asri itu untuk dijadikan lokasi untuk berfoto.

Pada kegiatan GHOS Momotoran jilid 2 pada (18/11) lalu, mereka melakukan start pukul 08.00 wib dari perumahan Taman Ciparigi Indah menuju Desa Cisalada, Purwabakti, Pamijahan, Bogor. Butuh waktu 2 jam untuk menempuh perjalanan sejauh 48 kilometer. Didominasi skutik, 16 anggota GHOS menikmati rute perjalanan menyusuri bukit dan tepi sawah dengan kontur jalan beton.
Baca juga : BRO Megie LEGOCK Nikmati HBD Sulawesi Usai 6 Tahun Keliling Indonesia
Tiba di sebuah warung lesehan yang berdekatan dengan sungai dipenuhi bebatuan, rombongan pun beristirahat dan membuka bekal nasi dan lauk-pauk untuk menu makan siang. “Saya kebagian bawa Semur Jengkol, biar bapak-bapak makannya pada lahap, dan ngegas motornya jadi makin semangat ” ujar Heni Suhartini, istri Hardiman Yoeck.

Cisalada merupakan sebuah dusun yang menerapkan teknik bercocok tanam dengan cara terasering. Yakni metode konservasi dengan membuat hamparan sawah menjadi bertingkat-tingkat, yang tujuannya untuk memperkecil kemiringan lereng serta meminimalisir kemungkinan terjadinya erosi. “Lokasinya keren euy!” seru Joko yang langsung mengajak istrinya untuk berfoto berdua.
Baca juga : Kren! Sist Sulas dari Bangka Belitung ke HBD Lampung Pakai Astrea Grand 1995
Usai istirahat dan makan siang, anggota GHOS khususnya perempuan yang sudah tidak sabar lagi segera berlarian ke arah sungai dengan air yang dingin dan bening yang berasal dari air terjun kecil di pinggir sungai. Suasana keakraban pun semakin kental terasa dalam kegiatan momotoran GHOS jilid 2 di lokasi yang asri dan alami. (TR/AB)

















