Perspektif konsumen
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian mobil listrik. Menurut riset ini, hal yang paling menentukan adalah aspek ekonomi dimana biaya operasional jauh lebih hemat, terutama bagi konsumen dengan mobilitas tinggi. Insentif pajak juga memperkuat minat karena pajak tahunan mobil listrik jauh lebih rendah, yaitu sekitar Rp150.000.
Selain alasan finansial, ada pula faktor psikologis. Responden pemilik mobil listrik merasa bangga menjadi bagian dari early adopter dimana mereka menikmati peran sebagai trend setter dan diasosiasikan dengan gaya hidup modern. Sementara, aspek lingkungan masih bersifat tambahan.
Proses pengambilan keputusan untuk pembelian mobil listrik sebenarnya tidak jauh berbeda dari konsumen mobil berbahan bakar fosil. Biasanya mereka dipengaruhi oleh orang di sekitarnya. Selain itu, media sosial dan influencer otomotif menjadi rujukan awal mereka untuk mencari informasi, mulai dari ulasan produk hingga perbandingan merek.
Baca juga: Hadirkan VF 7, Bukti VinFast Meningkatkan Nilai Bukan Diskon Sesaat
Temuan lain menunjukkan bahwa seluruh pemilik mobil listrik dalam riset ini sudah memiliki mobil konvensional terlebih dulu. Artinya, mobil listrik bukan mobil pertama yang dibeli dengan kisaran harga antara Rp189 juta dan Rp1,58 miliar. Hal ini juga menunjukkan segmen pengguna mobil listrik didominasi kelompok menengah atas.
Sedangkan dari sisi usia, terdapat tiga kelompok utama yaitu usia 25–35 tahun yang sedang membangun karier; usia 36–50 tahun yang sudah mapan secara keluarga dan pekerjaan; serta usia 50 tahun ke atas yang ingin tetap bermobilitas nyaman tanpa biaya operasional tinggi, terutama saat memasuki masa pensiun.

Pelaku industri
Industri otomotif pada dasarnya sangat responsif terhadap peluang pasar, tetapi sekaligus berhati- hati dalam menentukan arah investasi. Pelaku industri akan memperhatikan proyeksi permintaan yang jelas dari pemerintah sebelum menyusun peta jalan jangka panjang di Indonesia.
Berdasarkan pengumpulan data dari sejumlah pelaku industri menunjukkan bahwa sebagian besar pihak masih berada dalam fase “wait and see”, terutama dalam merespons fluktuasi kebijakan, ketatnya perang harga, dan ketidakpastian arah pasar.
Baca juga: Selamat! VinFast Raih Dua Penghargaan Favorite Booth di GIIAS 2025
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dua tahun pertama pertumbuhan mobil listrik di Indonesia lebih menyerupai masa survival (tetap bertahan) dan pembelajaran kolektif, bukan periode stabilisasi. Industri bergerak cepat untuk menyesuaikan diri dengan tren global, tetapi pasar domestik belum sepenuhnya siap menyerap perubahan dengan kecepatan yang sama.
Saat ini, persaingan industri mobil listrik tengah memasuki fase price–performance war yang dipimpin produsen asal Tiongkok dengan efisiensi rantai pasok dan agresivitas harga yang ditawarkan setiap pabrikan.
Sementara itu, produsen mobil listrik sekaligus menghadapi tekanan margin, siklus model yang kian pendek, dan ketidakpastian insentif. Pasar yang masih terkonsentrasi di wilayah urban dan didominasi kelas menengah atas menegaskan bahwa fase ini lebih merupakan masa penyesuaian daripada pertumbuhan inklusif.
Selama tiga tahun pertama, pertumbuhan mobil listrik lebih mencerminkan perpindahan konsumen daripada perluasan pasar. Lonjakan penjualan mobil listrik terjadi saat total penjualan mobil nasional justru menurun. Ini menunjukkan adanya kanibalisme pasar, yaitu konsumen bergeser dari mobil ICE ke mobil listrik, bukan menambah jumlah pembeli baru. (IDC/AB)

















