AlanBIKERS – Penerimaan masyarakat umum akan mobil listrik masih terbatas dan membutuhkan dukungan lebih kuat agar pasar dapat berkembang lebih luas. Temuan tersebut berdasarkan hasil riset yang telah dilakukan ID COMM, sebuah firma PR berbasis isu SDGs.
Hasil riset tersebut diberi judul Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?, merupakan hasil wawancara dengan konsumen, pelaku industri, dan media, serta analisis kebijakan dan regulasi mobil listrik yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (11/12).
Peluncuran riset ini ditandai dengan diskusi yang dilakukan oleh Co-Founder & Executive Director ID COMM Sari Soegondo, Co-Founder & Director ID COMM Asti Putri, dan dua Research Associate, yaitu Inu Machfud and Claudius Surya. Acara ini dihadiri oleh akademisi, asosiasi, konsultan, lembaga donor, rekan-rekan media, dan think tank.
“ID COMM terus akan melakukan riset-riset yang relevan untuk memberikan perspektif lebih lengkap terhadap sebuah tren atau fenomena industri di Indonesia. Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami sebagai konsultan komunikasi dan kehumasan yang membantu berbagai program klien. Kami harap riset independen kami bisa menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan agar bisa mengambil langkah konkrit di tahap selanjutnya,” ujar Sari Soegondo, Co-Founder & Executive Director ID COMM.
Riset tersebut juga memetakan hambatan, dan peluang adopsi mobil listrik yang dapat menjadi masukan bagi strategi pemangku kepentingan ke depan. Adopsi mobil listrik di Indonesia saat ini masih didorong oleh motif ekonomi, terutama penghematan biaya operasional dan insentif fiskal.

Baca juga: VinFast VF 6 Selaras dengan Sosok Beckham Putra: Energik, Fokus, dan Penuh Determinasi
Sementara itu, dominasi pengguna berasal dari kelompok menengah atas urban yang sebelumnya telah memiliki mobil konvensional atau berbahan bakar fosil.
“Transisi ini lebih menunjukkan pergeseran perilaku daripada perluasan pasar baru. Informasi ini penting untuk diketahui berbagai pihak terkait sektor otomotif,” ujar Asti Putri, Co-Founder dan Director ID COMM, sekaligus pemimpin riset ini.
Sebelumnya, pemerintah telah menargetkan populasi mobil listrik sebanyak 2 juta unit pada 2030 sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional. Dan tren pasar menunjukkan akselerasi meski masih ada ruang untuk pengembangan.
Baca juga: VinFast Umumkan Harga Langganan Baterai untuk Semua Model
Mengutip data GAIKINDO, jumlah Battery Electric Vehicle (BEV) naik dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024, lalu mencapai 51.191 unit hanya dalam delapan bulan pertama 2025.

Kebijakan pemerintah
Kebijakan kendaraan listrik di Indonesia berkembang sejak 2019, bergerak dari tahap perintisan menuju penguatan ekosistem. Perpres No. 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai menjadi pijakan awal percepatan program kendaraan listrik, yang kemudian diperkuat oleh berbagai aturan turunan di tingkat kementerian hingga pemerintah daerah.
Baca juga: VinFast Resmi Luncurkan VF 7 di Jawa Timur Ditengah Gelaran GIIAS Surabaya
Secara umum, regulasi-regulasi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. Untuk membaca arah kebijakan secara utuh, tim riset juga memetakan regulasi di sepanjang rantai pasok industri mobil listrik, yaitu mulai dari penambangan bahan baku hingga daur ulang komponen. Keseluruhan kebijakan tersebut dirancang untuk membangun sistem kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mencakup aspek fiskal, industri, infrastruktur, hingga pengelolaan akhir masa pakai.
“Kebijakan menjadi simpul yang menghubungkan pemerintah, swasta, dan masyarakat, sehingga tidak hanya berperan sebagai alat pengatur, tetapi juga katalis yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi yang adaptif bagi kebutuhan sosial dan ekonomi,” jelas Inu Machfud, Research Associate ID COMM.

















