Pada hari kedua diisi dengan materi praktek bongkar pasang ban, mulai dari membongkar ban, melepaskan dan memasang pentil hingga memberikan tekanan udara di ban mempunyai tehnik tersendiri. Tidak hanya asal copot dan pasang.
“Antara ban harian dan ban racing sangat berbeda praktek bongkar pasangnya. Ukuran Mini GP di velg ring 12 sedangkan untuk ukuran ban harian motor matic velg ring 14. Ada tehnik agar tidak merusak area bead. Bead bengkok akan sulit menerima tekanan udara di ban (dipompa). Dan akan rawan bocor. Yang lebih bertenaga ketika memasang ban Mini GP. Karena ukuran diameternya kecil,” ujar Ega Suryana, Technical Service Manager Kingland Tire.
Baca juga : Pebalap AHRT Berhasil Kumandangkan Indonesia Raya di ARRC Thailand
Kombinasi penyampaian materi dengan praktek menjadi daya tarik tersendiri. Dan hal ini langsung dirasakan oleh peserta. Rizal, siswa kelas 11 SMK Nusa Mandiri mengatakan, ia sangat bangga mendapatkan ilmu dan praktek. Diakui olehnya, yang awalnya ia tidak mengetahui proses bongkar pasang ban dan teknik lainnya. Tetapi sekarang ini, ia mendapatkan ilmu dan praktek yang bermanfaat baginya.
“Sekarang saya sudah mendapatkan ilmu dan prakteknya. Awalnya memang susah banget, sekarang sudah agak mudah. Saya penasaran, ya saya ulangi lagi praktek tersebut sampai saya benar-benar bisa,” ujar Rizal.
Hal senada juga dikatakan Arif Novi (ayah dari Keanu, pembalap Mini GP) Tim Balap, rasanya program ini harus diperluas. Dan kontribusi langsung pihak produsen otomotif memang benar diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih tepat bagi para calon mekanik di sekolah SMK otomotif. (KTI/AB)


















