AlanBIKERS.com – Riuh rendah perayaan HUT RI seakan menyeruak di berbagai penjuru negeri ini. Mulai dari kampung-kampung hingga berbagai perumahan berhias cat baru dan bendera kecil beraneka warna. Semua ingin gempita bersama menyambut hari kelahiran negeri gemah ripah yang tahun ini genap berusia 75 tahun.
Namun di sebuah sudut negeri ini, ada lembah dan jurang, dimana di atas tanahnya dan di bawah langitnya ada manusia manusia yang luput dari liputan media. Mereka pernah merana diterjang bencana tanah longsor Januari 2020 lalu.

Mereka adalah warga dari Kampung Cigobang, Desa Banjarsari, Lebak, Banten yang terdampak paling parah akibat bencana tersebut, bahkan sempat menjadi kampung mati karena sejumlah bangunan rata dengan tanah termasuk barang-barang yang mereka miliki.
Namun kini mereka tak hanya diam, mereka mulai merangkai asa, menaikannya dalam doa dan usaha, meski mereka tahu dibutuhkan putaran kala yang panjang untuk membawa mereka ke kehidupan semula.

Cerita seputar kegigihan masyarakat yang ada di Kampung Cigobang ini mengusik hati nurani para bikers dari komunitas 650 KLAN Indonesia untuk turut serta merasakan rasa dan membangun asa. Tak mau berita gembira dan ajakan kebaikan ini tersimpan sendiri, mereka pun menginisiasi untuk kembali gelar aksi sosial yang kerap mereka lakukan, yaitu Ride to Donate.
Dengan tajuk P17ULASAN, tim dari 650 KLAN Indonesia menggandeng sahabat komunitas lainnya untuk menjadi bagian dari niat mulianya ini. Dan aksi sosial ini pun akhirnya turut didukung oleh Vulcan Rider Indonesia (VRI), Z900 Baikaa, Forkom K650, IRA serta Ayam Geprek 168.

Gabungan dari beberapa komunitas ini melaksanakan kegiatannya ini tepat di hari perayaan Hari Kemerdekaan RI, Senin (17/8) dengan mengambil lokasi di area halaman Huntara 4, salah satu dari 4 hunian sementara (Huntara) yang ada di Kampung Cigobang yang mereka sebut dengan nama Tanah Harapan.

Sebelumnya, tim panitia mempersiapkan segala sesuatunya di lokasi ini sejak hari Minggu (16/8), setelah berjuang menempuh medan jalan yang masih berupa tanah merah belum diaspal. Tidak mudah memang riding menuju lokasi acara, apalagi sebagian besar mereka mengendarai motor berkubikasi besar.

Upacara Bendera pun digelar tepat mulai pukul 10.00WIB dengan pesertanya gabungan dari para bikers dan masyarakat setempat. Tampil sebagai Pemimpin upacara Bro Fian dari PRIDE (Parung Ride Adventure) lalu Pembina upacaranya Bro Wahyu yang merupakan ‘Ayah’ bagi Huntara 4 ini karena sudah 8 bulan lebih dia berjibaku bersama para warga untuk kehidupan yang lebih layak.

Aktifitas Usai Upacara Bendera
Usai melaksanakan upacara, acara dilanjutkan dengan mendengarkan tausiah dari Bro Ustadz Arman dari 650 KLAN. Dalam tausiahnya, dia menyampaikan bahwa hati yang bersih mampu membawa insan keluar dari segala belenggu, tak peduli bagaimana lingkungannya, karena hati yang bersih adalah rumah bagi doa dan harapan.

Selain menyerahlan sejumlah donasi, guna memeriahkan acara ‘agustusan’ ini juga tampil Bro Andi dengan kostum Power Ranger menghibur masyarakat setempat, khususnya anak-anak dan kaum ibu yang tampak ceria suka cita seolah tak ada luka dan nestapa.
Dipenghujung acara Bro Djoe Witjaksono, Ketum 650 Klan Indonesia selaku Ketua Pelaksana mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa ruang hati harus dibuka seluas-luasnya untuk kebaikan.

“Apa arti memiliki aneka rupa kendaraan dengan kubikasi besar namun tak sebesar hati yang dimiliki. Sudah saatnya organisasi bermotor menjadi garda terdepan dalam kemanusiaan, sudah bukan jamanya lagi cuma untuk pamer motor, riding, touring. Saatnya sekarang kegiatan bermotor diramu menjadi kegiatan yang membawa kebaikan dan manfaat untuk orang banyak,” tutupnya.
Bro Djoe menambahkan, bahwa pada acara ini bukan para bikers yang membawa pelajaran, namun para bikers yang hadirlah justru belajar arti kata merdeka dan harapan dari para penghuni Huntara 4.

“Sudahkah kita merdeka dari segala ego kita?, sudahkan kita maknai kata merdeka dengan tepat?, sudahkah kita mampu untuk terus memanusiakan manusia dan memerdekakan sesama?, Jika belum, datanglah ke Huntara 4 Cigobang. Duduklah sejenak, nikmati dingin airnya, bercengkramalah dan lihatnya bagaimana wajah-wajah penuh asa disana menyambutmu. Mereka perlu kita, sebagaimana kita perlu mereka untuk kembali mengajari kita agar menjadi manusia dan arti dari kata MERDEKA !!!…” tutupnya. (DW/AB)














